Home Berita Menemukan Kebenaran Hakiki

Menemukan Kebenaran Hakiki

9 min read
0
0
361
Afri Yendra

publiksultra.id Oleh Afri Yendra
Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi.

الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ
“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

[quotes quotes_style=”bquotes” quotes_pos=”center”]Baca Juga : Hanya 16 Hari, Negara Ini Sukses Vaksinasi 93 Persen Penduduk[/quotes]

Hakikat manusia adalah memilih keterbatasan sehingga manusia kerap  disebut dengan Insan yang berasal dari kata hasan yang bermakna lemah dari kekuatan, terbatas kemampuannya.

Penglihatan kita, dia dibatasi oleh alam itu sendiri, Sejauh apa yang ditangkap oleh indra kita yang terbatas itu. Lalu apa nilai yang kita lihat secara Inderawi adalah sebuah ketrebatasan itu sendiri.  Namun  yang ada dibalik dinding materil yang terbatas itu,maka itu makna sesungguhnya.

Manusia atau Insan, kerap pula dikatakan berasal dari kata hasan (kurang/lemah), maka dia harus disempurna-kan dengan ihsan (kebaikan), maka ihsan adalah meng-insan hasan, namun tetap jualah namanya manusia dihiasi oleh kelemahan dan kekurangan.

Ada luang dan ruang luas terbentang di balik dinding kerdil kita selaku manusia. Kebesaran manusia bukan terletak ia berdiri atau berada di atas nilai-nilai terbatas itu, sebab hakikat manusia selalu hanya terbatas pada keseimbangan materil.

Seperti timbangan apabila ada yang ke bawah maka dipihak lain ada yang terangkat ke atas sebesar/seberat/sejauh benda yang ke bawah tadi yang disebut “Sistem Keseimbangan Neraca”, atau analisis berbeda terhadap sebuah hukum Archimedes, ”Sebuah benda dalam air pada bejana yang penuh  akan berkurang beratnya seberapa air tumpah dari bejana itu.”

Artinya, hukum archimedes ini memandang lebih tajam lagi tentang eksistensi manusia  yaitu, ”Ia akan menampakkan eksistensi dalam suatu komunitas masyarakat seberapa ia mampu menggeser popularitas orang lain dalam komunitas baru yang ia tempati.

Dunia dan manusia seakan seperti itu, apabila ia berdiri dekat orang kaya ia akan merasa miskin, seseorang akan dinilai kaya kalau ia berada di komunitas miskin dan sebaliknya. perbandingan gemuk dengan yang kurus, hitam dengan yang putih, dan seterusnya,..dan seterusnya.

Inilah keterbatasan pandangan manusia dalam semua lini, semua dibatasi oleh dinding-dinding yang bersifat duniawi dan itu tidak disebut dengan kebenaran hakiki.

Lalu di mana kebenaran hakiki itu?
Kebenaran hakiki itu harus lepas dari nilai-nilai materil, karena ia berada di balik dinding indra manusia.

Indra mana yang mampu melihat?
Indra Ruhaniyah, karena ruh itu milik Allah (Kutiupkan Ruh-Ku kepadamu), dan semua kebenaran hakiki itu adalah milik Allah (al-haqqu min Rabbika).

Bagaimana melihat kebenaran itu?
Dengan melepaskan segala sifat-sifat duniawi dalam indra kita. Dengan menggunakan mata-Nya, melihat dengan bashir-Nya, melihat dengan kekuasaan-Nya yang ada pada kita yaitu “Qalbu atau Ruh” yang kita kerap menyebutnya dengan “Mata Hati”. mendengarkan dengan pendengarannya melalui “Suara Hati/suara kalbu” itulah suara iman atau suara keyakinan pada nilai kebenaran hakiki.

Dan semuanya bersumber dari yang Maha Benar di Kitab-Nya yang Sangat Amat Benar dan dibawa oleh Yang Benar (Shiddiq) yaitu al-Qur’ân al-Karîm.

Berpegang kepada Al-Qur’an. Meyakininya sebagai wahyu yang mutlak kebenarannya. Dan semua kebenaran itu adalah berada dalam Alquran:
الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ

“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)
Maka segala pendapat dan pandangan yang bertentangan dan berseberangan dengan kebenaran Al-Qur’an dinyatakan sesat dan batil secara mutlak.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Setiap orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, maka (ucapan) itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada Al-Qur’ân dan Sunah, maka (ucapannya) itu adalah kebingungan.”

Kebenaran Allah itu memiliki  beberapa tingkatan yaitu tingakatan tertinggi adalah Kebenaran dengan kepastian (certainty) . kedua Kebenaran dengan KehendakNya (iradah), misalnya, dipahami sebagai sebuah kebenaran yang keberadaannya tidak memerlukan pembuktian lebih lanjut.  kehendak Tuhan adalah kebenaran sejati pada dirinya (in-and-of itself). Ketiga adalah kebenaran mutlak (al-haqq). kebenaran yang tidak boleh diragukan (falaa takuunanna minal mumtarin).

Dengan semua kebenaran dari Allah memberikan “Kepastian” akan kebenaran itu, kebenaran Allah lepas dari kebenaran Makhluk karena merupakan KehendakNya dan semua itu merupakan kebenaran Mutlaq yang tak boleh diragukan lagi.
Dengan demikian kita telah menemukan kebenaran hakiki yaitu dari Allah Illahi Robbi.

Kebenaran yang mesti diterima dengan Iman. Penerimaan kebenaran dengan Iman itulah yang disebut Keikhlasan dan Kepasrahan.

Keikhlasan dan kepasrahan terhadap-Nya, membuat semakin terang indra sesungguhnya. Semakin ikhlas seseorang, semakin pasrah kita pada sesuatu yang kita yakini terhadap Allah, maka semakin terang mata hati, semakin jernih pelita pendengaran kita mendengarkan jernih suara hati kita, semakin halus dan lembutnya perasaan kita.
Puncaknya akan memunculkan kemuliaan Akhlaq.(*)

Editor : Nova Anggraini

Load More Related Articles
Load More By sulkifly said
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also

Pabrik Tesla Rugi Miliaran Dolar AS, Begini Penuturan Elon Musk

PUBLIKSULTRA.ID – Elon Musk, pemilik perusahaan mobil listrik kenamaan Tesla mengung…